Mari Menimpuk, eh Menumpuk Batu Bata!

18 Jul 2010

Suatu hari pak Jono melihat sebidang tanah yang luas, dengan pemandangan yang indah. Ia langsung terpikir untuk membangun sebuah rumah yang besar dan indah disana. Lalu ia segera membeli tanah itu, dan mengurus semua surat-suratnya.

Setelah tanah itu resmi menjadi miliknya, lalu ia pergi ke toko bangunan. Ia membeli ribuan batu bata, berkilo-kilo pasir, berpuluh-puluh sak semen, puluhan lusin keramik, dan semua bahan-bahan bangunan lainnya. Lalu ia menumpuk semua bahan bangunan itu di sebidang tanah miliknya. Ia berencana untuk memulai membangun rumahnya keesokan hari.

Esoknya, dalam perjalanan Pak Jono tertabrak sepeda roda tiga. Ia terluka parah, mengalami patah tulang, sehingga harus dirawat di rumah sakit. (Lebay yah? Gpp deh, soalnya kasian kalo nyalahin Bajaj atau Metro Mini melulu. Sekali-sekali nyalahin sepeda roda tiga. =p ) Karena ia mengalami kecelakaan, akhirnya rumah itu batal dibangun. Dan semua bahan bangunan yang sudah dibeli itu teronggok begitu saja.

brick_pile

Lama-kelamaan, bahan-bahan bangunan itu menjadi rusak karena tidak digunakan. Batu bata menjadi lapuk, semen menjadi keras, besi-besi karatan, keramik pecah-pecah, dan semuanya menjadi tidak dapat digunakan lagi. Dan tumpukan bahan bangunan yang tadinya memiliki potensi untuk menjadi sebuah rumah yang indah, yang dapat ditinggali oleh manusia, pada akhirnya hanya menjadi setumpuk sampah yang tidak berguna.

Bagaimana dengan gereja?

“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.
Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.”
Efesus 2: 19-22

Rumah adalah suatu bangunan dimana manusia bisa tinggal didalamnya, terlindung dari angin, hujan, panas, dan dingin. Rumah adalah tempat dimana manusia bisa merasa aman, nyaman untuk beristirahat. Dan rumah adalah tempat dimana seseorang pasti diterima. Ketika Tuhan mendirikan gereja-Nya, ia berkata kalau gereja adalah tempat kediaman-Nya, atau dengan kata lain, gereja adalah rumah-Nya.

Tapi, apa yang terjadi jika orang-orang percaya hanya sekedar berkumpul di satu tempat tanpa pernah disusun rapi pada tempat yang seharusnya mereka tempati? Persis seperti nasib rumah Pak Jono di atas. Lama-kelamaan hanya menjadi tumpukan sampah yang tidak bisa disebut rumah.

Banyak orang berpikir, hanya dengan berkumpul sesama orang percaya (orang Kristen katanya harus ke gereja), sudah bisa menjadi gereja. Tapi Efesus 2:21 jelas-jelas berkata,Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.”

Ya, orang pasti bisa merasakan hadirat Tuhan ketika datang ke Ibadah Raya, Doa Bersama, Persekutuan Doa, Kebaktian, dan apapun sebutannya. Tuhan bisa hadir di tumpukan batu bata, tapi Ia hanya mau tinggal di dalam RUMAH.

Pertanyaannya adalah, adakah orang yang mau menyusun batu bata itu menjadi sebuah rumah?
Atau kita hanya sibuk mencari batu bata baru untuk ditumpuk semakin banyak, tanpa pernah memikirkan bagaimana cara menyusun batu bata itu menjadi sebuah rumah yang indah, dimana Tuhan bisa tinggal dengan nyaman?

Tanya kenapa?


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post